Cara Melakukan Pemasaran Bunga Pot

Industri bunga pot merupakan inspirator lahirnya pengusahaan bunga pot di Indonesia. Berikut cara melakukan pemasaran bunga pot yang mudah serta menghasilkan.Bunga pot dari beberapa produsen yang dipasarkan di Jakarta mendapat respon yang baik. Laju permintaan di salah satu nurseri meningkat sampai 500% selama dua tahun terakhir ini.

Dimal dan pasar swalayan, seperti pasar swalayan Diamon di Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Mana Departement Store di Bandung, harga satu pot krisan dan mawar Rp 10.000,oo, gerbera Rp 7.500,00, dan gloksinia Rp 6.000,00.

AnggrekĀ  phalaenopsis dalam pot harganya Rp 26.000,00, sedangkan dendrobium Rp 14.500,00. Suasana di kedua pasar swalayan itu tampak semarak dengan hadirnya pot-pot yang penuh dengan bunga warna-warni. Di Mal Blok M Jakarta Selatan, bunga pot dijajakan di ruang terbuka oleh PT Mitran.

Baca Juga:

Permintaan konsumen terhadap bunga pot dipasar swalayan cukup tinggi. Menurut kepala bagian counter bunga dipasar swalayan Diamon, dalam sau minggu rata-rata dapat terjual 100-150 pot.

Bunga pot disuplai produsen ke pasar swalayan itu 3 hari sekali. Tanaman yang dikirim biasanya berbunga 80% dan dijamin dalam keadaan baik. Selain menyediakan produk lokal, pasar swalayan Diamon juga menjual bunga pot impor, seperti hyacinth (Hyacinthus spp.) dari Belanda. Bunga pot hyacinth itu dijual dengan harga Rp 25.00,00.pemasaran bunga dalam pot

Saat ini bunga pot yang paling banyak diminati masyarakat adalah krisan, terbukti dengan banyaknya stok krisan di kios bunga maupun pasar swalayan. Corak warna bunga krisan memang sangat beragam dan tergolong paling awet alias tidak cepat layu dibandingkan bunga pot yang lainnya.

Pasar swalayan Diamon memasarkan bunga pot sejak tahun 1995 dan mulai meningkat penjualannya pada 1996 sampai sekarang. Kondisi permintaan yang cukup baik ini membuat produsen menjadi repot.

Selain dalam bentuk bunga pot jadi, produsen juga dapat menjualnya dalam bentuk bibit. Pemasaran bunga pot bisa dengan cara dipajang langsung di kios bunga maupun pasar swalayan atau disewakan. Hal yang menarik dari bisnis bunga pot adalah produsen dan pengecerannya hanya menerima order dengan ”transaksi putus” alias dibayar kontan.

Bisnis Bunga Pot Merupakan Bisnis Baru

Alasan bagi produsen dan penjual bunga pot sehingga mereka terarik mengusahakan bisnis ini antara lain karena bunga pot relatif awet dibandingkan bunga potong. Dari statistik ekspor Indonesia tahun 1996, tercatat nilai ekspor bunga potong sebesar US$ 1.697.444. Industri bunga potong yang telah melangkah dahulu menjadi inspirasi lahirnya bisnis bunga pot di Indonesia.

Artikel terkait

Keindahan rangkaian bunga potong hanya dapat dinikmatiĀ  dalam waktu yang terbatas, sekitar 5-7 hari, sedangkan bunga pot bisa bertahan 4-5 minggu. Salah satu keistimewaan bunga pot antara lain karena mudah dipindahkan, seperti halnya bunga potong sehingga fungsinya sama. Selain sengaja dibeli untuk menghias ruangan, bunga pot juga dimanfaatkan sebagai hantara ucapan selamat atau penghargaan.

Kini, konsumen peminat bunga pot sudah semakin banyak dibandingkan tahun 1994, ketika bisnis ini mulai dikembangkan. Walaupun belum sepopuler rangkaian bunga potong, produksi bunga pot yang mereka hasilkan sekarang, menurut para produsen selalu kurang.

Bunga pot pada umumnya dimanfaatkan untuk hiasan ruangan di rumah, hotel, dan restoran. Kontraktor dekorasi dan penyewa tanaman hias juga memanfaatkan bunga pot. Sebagai contoh, konsumsi bunga pot hasil produksi PT Kebun Ciputri, sebanyak 10% diserap perental tanaman hias, 60% pengecer, 20% floris, dan sisanya hotel.

Bisnis Bunga pot di Dalam Negeri

Dibandingkan bunga potong, bunga pot memerlukan tempat yang lebih luas untuk pembudidayaannya. Hal tersebut menjadikan peningkatan produksi bunga pot harus selalu diikuti perluasan green house. Dengan rumah plastik seluas 3 hektar, rata-rata bisa diproduksi 1.000-1.500 pot/minggu. Total produksi dari beberapa produsen yang ada di wilayah Jawa Barat masih terhitung kurang dibandingkan dengan permintaan pasar di wilayah itu.

Bunga pot tergolong komoditas yang tiodak mudah ditransportasikan. Bunga pot membutuhkan ruang pengangkut yang luas sehingga tidak efisien. Oleh karena itu, bunga pot kurang populer dalam kancah perdagangan Internasional. Tak heran bila komoditas ini belum tercatat secara khusus dalam statistik ekspor dan impor Indonesia.

Meskipun demikian, dalam jumlah yang tidak tercatat, importir bunga Indonesia ada yang mendatangkan bunga pot dari luar negeri, seperti bunga hyacinth dari negeri Belanda. Sebaliknya, eksportir bunga Indonesia menjual bunga pot jenis anggrek cattleya dan phalaenopsis ke luar negeri.

Produsen bunga pot mengakui bahwa biaya produksi bunga pot masih tinggi. Komponen yang melambungkan biaya produksi antara lain biaya bibit dan transportasi. Misalnya, dalam satu pot bunga minimal harus terdiri dari lima tangkai, berarti harus ada lima bibit. Apabila modal satu tangkai Rp 150,00 maka biaya bibit satu potong adalah Rp 750,00.

Biaya itu ditambah dengan komponen produksi yang lain sehingga biaya produksi per pot berkisar Rp 4.000,00, gloksinia Rp 2.500,00, dan gerbera Rp 2.500,00. Untuk pengangkutan bunga pot idealnya menggunakan mobil boks berpendingin. Mobil boks ukuran sedang hanya dapat mengangkut maksimal 200 pot.

Produsen bunga pot di Jawa Barat memasarkan produknya kepada konsumen di wilayah jabodetabek dan bandung. Dalam jumlah tidak terlalu banyak dan bersifat insidentil, PT Kebun Ciputri memasok bunga pot ke Surabaya.

Dengan demikian, pemasaran bunga pot relatif terbatas. Namun, menurut pengakuan produsen bunga pot dikawasan Cihideung, Bandung mereka secara insidentil dalam jumlah yang tidak tetap juga mendapat order pengiriman bunga pot ke luar Jawa, seperti Bengkulu, Batam, dan Bali,

loading...
Cara Melakukan Pemasaran Bunga Pot | Penulis | 4.5