Gejala Kelainan Fisiologis Pada Tanaman

Gejala fisiologis disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti sinar matahari, suhu, defisiensi hara, air, dan tingkat keasaman. Sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan daun layu. Bercak cokelat akan timbul bila daun yang tidak berklorofil terbakar sinar matahari.

Sumber cahaya tidak merata dan posisi tanaman yang tidak pernah diputar menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi miring. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan warna daun pada aglaonema menjadi memucat. Selain itu, kelebihan air dapat menyebabkan daun menguning.

Langkah-langkah yang harus dilakukan agar tumbuhan tidak terserang penyakit antara lain sebagai berikut.

Baca Juga:
  • Usahakan tumbuhan selalu dalam kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi segala kebutuhan zat haranya.

 

Jangan membiarkan tumbuhan terlalu rimbun, pangkaslah sehingga seluruh bagian tumbuhan mendapatkan sinar matahari yang cukup.

 

Jangan biarkan tumbuhan terserang kutu, tungau, atau hewan yang lain yang sering membawa bakteri atau jamur.

 

Usahakan lingkungan selalu bersih.

 

Perhatikan tumbuhan sesering mungkin sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini mungkin.

 

Jika terdapat gejala-gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah, ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau tumbuhan yang lainnya.

 

Penggunaan pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada tumbuhan.images (3)

Penggunaan pestisida sintetis membutuhkan kecermatan, baik mengenai pilihan pestisida yang aman maupun petunjuk pemakaiannya. Hasil pemantauan rutin dapat digunakan untuk mengetahui jenis hama dan penyakit yang menyerang, dan menentukan jenis pestisida yang sesuai sasaran. Pemantauan juga bermanfaat agar penyemprotan tidak terlambat dengan menggunakan dosis dan waktu yang tepat sehingga pengendalian hama dan penyakit dapat berhasil.

Anda sebaiknya menggunakan pestisida secara rotasi, yaitu menggunakan beberapa merk pestisida yang digunakan secara bergantian. Sebaiknya Anda memilih pestisida dengan bahan aktif yang berbeda. Cara ini dilakukan agar tidak terbentuk kekebalan tubuh pada hama dan penyakit yang menyerang tabulampot.

Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Dan minimal selama 6 jam, sesudahnya tanaman tidak boleh disirami ataupun terkena air hujan. Hal ini agar penyemprotan yang sudah dilakukan diserap secara efektif oleh tanaman.

Apabila pada musim hujan Anda melakukan penyemprotan, maka sebaiknya Anda menggunakan perekat daun, agar pestisida efektif menanggulangi hama. Pada saat Anda menyemprotkan pestisida, sebaiknya penyemprotan dilakukan menggunakan spray agar tanaman mudah menyerapnya.

Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida harus memperhatikan jenis hama dan penyakit yang ada, populasi, serta tahap pengembangan hama tersebut. Penggunaan pestisida dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan hal-hal berikut.

Pestisida biologi disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang.

Pestisida harus selektif, yaitu untuk hama atau penyakit yang menyerang jenis tanaman tertentu.

Formulasi pestisida harus sesuai. Misalnya untuk hama yang masuk ke dalam bungan kurang cocok jika digunakan penyemprotan, namun lebih efektif jika berbentuk kabut sehingga lebih mudah untuk masuk ke dalam bunga.

Pestisida sistemik (masuk ke jaringan tumbuhan) atau kontak bersentuhan dengan hama, disesuaikan dengan tahap perkembangan hama. Pada fase dewasa, kutu putih mungkin sulit dikendalikan dengan pertisida kontak karena tubuhnya memiliki lapisan luar yang dapat melindunginya dari semprotan langsung. Pestisida sistemik akan lebih efektif karena larva yang baru menetas dan maka daun akan mati karena bahan aktif yang ada dalam tumbuhan akan meracuni hama tersebut

loading...
Gejala Kelainan Fisiologis Pada Tanaman | Penulis | 4.5