Hama-Penyakit Yang Sering Menyerang Bunga Anggrek

Dalam pemeliharaan Anggrek Phalaenopsis spesies,Perlu di perhatikan Hama-penyakit yang sering menyerang anggrek. Masalah hama dan penyakit dapat selalu muncul sehingga perlu cara pengendaliannya. Pengertian hama dan penyakit hendaknya dibedakan untuk memudahkan penanganannya.

Dalam pengertian sederhana, hama digolongkan sebagai pengganggu tanaman yang kasat mata seperti keong, kutu dan ulat. Sementara penyakit merupakan pengganggu tanaman yang tidak kasat mata seperti jamur, bakteri, dan virus. Penyakit hanya terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop.

Memiliki anggrek yang sehat tentu saja merupakan dambaan setiap orang. Untuk itulah diperlukan penanganan yang benar agar tanaman terhindar dari gangguan hama dan penyakit. Penanganan hama dan penyakit hendaknya berpegang pada prinsip “mencegah lebih baik dari pada mengobati”.

Baca Juga:

Oleh karena itu, sedapat mungkin anggrek dirawat dan dijaga jangan samapai terserang penyakit atau hama. Melakukan pencegahan sedini mungkin akan lebih efisien dari segi biaya maupun waktu dibandingkan pengobatan.

1. Hama

Seperti jenis tanaman lain, anggrek spesies pun tidak luput dari ancaman serangan hama. Serangga, ulat, ngengat, kutu, dan siput merupakan beberapa contoh hama yang sering mengganggu tanaman anggrek. Hama-hama tersebut umumnya menyerang atau memakan bagi tanaman seperti daun atau bunga. Selain memakan bagi tanaman, sering kali hama-hama tersebut meletakkan larva atau telurnya di bagian tanaman tersebut.

Serangga hama dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup merugikan. Untuk itulah diperlukan upaya pengendalian dan kontrol terhadap tanaman sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu mekanis, pengaturan sanitasi lingkungan atau ekologi, dan kimiawi.

Pengendalian hama secara mekanis dilakukan dengan cara menangkap langsung hama yang terdapat pada tanaman. Keong atau ulat dapat ditangkap pada malam atau siang hari saat mereka menempel pada tanaman. Pengendalian mekanis dilakukan bila populasi hama sedikit. Bila populasinya banyak, sebaiknya digunakan cara lain karna tidak efisien dalam hal waktu maupun tenaga kerja.

Pengendalian lainnya adalah dengan pengaturan sanitasi lingkungan. Sanitasi yang baik dan terjaga mengurangi kemugkinan hama menyerang tanaman. Sebagai conoth, siput kecil biasanya berdiam di sampah atau rumput-rumputan yang lembap. Bila lingkungnatanaman terhindar dari adanya sampah atau kotoran lainnya maka kesempatan siput untuk tinggal di lingkungan tersebut menjadi berkurang. Dengan demikian, tanaman akan aman dari serangan hama.

Pengendaliaan secara kimiawi pun dapat dijadikan pilihan bila cara lain tidak mungkin dilakukan untuk tidak dapat mengatasi hama. Artinya, bila sudah dilakukan cara mekanis atau sanitasi lingkungan tetap daja hama menyerang tanaman maka cara kimia pun digunakan. Di pasaran sudah banyak dijual berbagai merek dan jenis pestisida untuk mengatasi hama anggrek.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pestisida adalah dosis dan cara pemakaiannya. Bila dosis dan cara pemakaian salah, akan terjadi kerusakan pada tanaman maupun gangguan kesehatan manusia. Penggunaan pestisida relatif lebih praktis dan cepat cara kerjanya. Namun demikian, biaya yang diperlukan lebih besar dibandingkan cata mekanis maupun sanitasi lingkungan.

2. Penyakit

Bakteri dan jamur sering menyerang daun, bataang, akar, maupun bunga anggrek Phalaenopsis spesies. Penyakit ini masuk ke dalam jaringan tanaman melalui stomata atau luka pada tanaman.

Artikel terkait

adanya jamur pada tanaman tampak saat sporanya tumbuh. Sementara adanay bakteri sangat sulit dikenali, kecuali setelah ada tanda-tanda terjadinya serangan.

Gejala awal serangan jamur dan bakteri sering dianggap sama karena memilki ciri serangan yang hampir mirip. Secara umum ciri-ciri serangan bakteri dan jamur antara lain pada daun terdapat bercak-bercak kecil, melepuh seperti tersiram air panas, berair baik keruh maupun bening, dan berbau amis. Walaupun gejala serangannya sama, keduanya masih dapat dibedakan.

Bakteri mengeluarkan cairan keruh dan berbau amis, sedangkan jamur mengeluarkan cairan bening dan tidak berbau. Selain itu, sedangkan jamur mengeluarlkan cairan bening dan tidak berbau. Selain itu, penyebaran serangan bakteri pun lebih cepat dibandingkan dengan serangan jamur.

Serangan bakteri atau jamur umumnya terjadi bila kondisi lingkungan tanaman tidak sesuai, yaitu sirkulasi udara di dalam rumah kaca kurang baik serta kelembapan udara dan suhu tinggi.

Untuk mencegah terjadinya serangan penyakit, sebaiknya kondisikan lingkungan atau ekologinya.

Kondisi lingkungan yang baik bagi anggrek Phalaenopsis spesies relatif hampir sama dengan jenis anggrek tropis lainnya. Dalam hal ini kondisi lingkungan yang sangat berperan adalah

  1. suhu siang antara 28-30 derejat Celcius,
  2. intensitas cahaya 20-35%,
  3. kelembapan udara sekitarr 60-75%,
  4. udara bergerak, serta
  5. sumber air dengan derajat keasaman (pH) 6-7.

Banyak cara dalam upaya mengondisikan ekologi tersebut. Di siang hari teriknya matahari dapat menyebabkan suhu udara menjadi tinggi dan kelembapan udara menjadi rendah. Secara sederhana, suhu udara yang tinggi tersebut dapat diturunkan dan kelembapan yang rendah dapat dinaikkan dengan cara penyiraman lantai atau pengabutan, yaitu penyemprotan butiran dengan penggunaan alat pengendalian yang disebut colling pet lain sebagai pelengkap, yaitu blower (pengembus) yang diletakkan di belakang tirai air, exhausefan (penyedot) udara dari dalam ke luar yang bekerja secara mekanik, dan pengatur waktu (timer).

Intensitas cahaya diatur dan disesuaikan dengan krei yang terbuat dari bambu atau paranet. Paranet merupakan lembaran plastik hitam rajutan berkerapatan tentu yang disesuaikan degan umur dan jenis pohon. Paranet ini dipasang di bawah atap plastik.

Dengan upaya-upaya pengendalian kondisi lingkungan tersebut tentu saja menyebabkan kepesatan tumbuh dan keberhasilan pemeliharaan sesuai yang diharapkan. Singkatnya, sukses suatu usaha budi daya anggrek pada umumnya sangat bergantung pada pengondisian faktor lingkungan tersebut. Sebut saja faktor tersebut merupakan faktor primer, sedangkan pemberian pupuk dan pestisida merupakan faktor sekunder.

Sering kita mendengar atau membaca suatu anjuran atau sran, “Pilih jenis anggrek yang sesuai engan ketingian tempat”, Agaknya anjuran atau saran tersebut harus ditinggalkan karena dengan perhitungan yang cermat (analisis usaha) dan terutama penguasaan teknologi budi daya yang tepat maka saat ini anggek apa saja dapat ditanam di mana saja dan kapan sja.

Bila tanaman sudah terserang, upaya yang harus dilakukan adalah pengendalian secara mungkin. Bila upaya pengendalian tersebut terlambat, dapat timbul kerugian yang lebih besar. Upaya pengendalian penyakit yang umum dilakukan adalh dengan penyemprotan fungsida atau bakterisida. Segera pisahkan tanaman yang terserang dengan mengisolasikannya dari tanaman sehat.

loading...
Hama-Penyakit Yang Sering Menyerang Bunga Anggrek | Penulis | 4.5